Maluku

Maluku

Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian Ini adalah artikel tentang provinsi. Untuk artikel mengenai kepulauan, lihat Kepulauan Maluku. Untuk kegunaan lain, lihat Maluku (disambiguasi) Maluku Provinsi di Indonesia Pantai Ora Pantai Ora Bendera Maluku Bendera Lambang resmi Maluku Lambang Semboyan: Siwa Lima ( Saling Memiliki) Peta Peta Negara Indonesia Ibu kota Ambon Jumlah satuan pemerintahan Daftar[tampilkan] Pemerintahan • Gubernur Murad Ismail • Wakil Gubernur Barnabas Orno • Sekretaris Daerah Hamin Bin Thahir • Ketua DPRD Edwin Adrian Huwae Luas • Total 209.235,59 km2 (8,078,631 sq mi) Penduduk (2017)[1] • Total 1.744.654 jiwa • Kepadatan 8,33/km2 (2,160/sq mi) Demografi • Agama Islam 50.61% Kristen Protestan 41.40% Katolik 6.76% Hindu 0,37% Buddha 0,02% Khong Hu Chu 0.01% Lain-lain 0.84% [2] • Suku bangsa Suku Asal Maluku 73,83% (Alif'uru 60%, Lainnya 13,83%) Suku asal Sulawesi 16,20% Jawa 5,20% Bugis 1,66% Suku asal NTT 0,56% Tionghoa 0,30% Lainnya 2,25%[3] • Bahasa Indonesia (resmi) Ambon (dominan) Alune Atiahu Bugis Jawa Melayu Nuaulu Wemale Arab Belanda Portugis Spanyol 140-an lebih bahasa lainnya Zona waktu WIT (UTC+09:00) Kode pos 971xx-976xx Kode area telepon Daftar[tampilkan] ISO 3166 ID-MA Plat kendaraan DE Dasar hukum pendirian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1958, 46 Tahun 1999, dan 40 Tahun 2003 DAU Rp897.657.192.000,00 (2013)[4] Lagu daerah Rasa Sayange, Sarinande, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Burung Kaka Tua, Burung Tantina, Pela e, Huhate, Manise, Kole-Kole, Lembe-Lembe, Ouw Ullath e, Waktu Hujan Sore-Sore, Buka Pintu, Ambon Manise Sayang Kene, Hela Rotang, Hela e Hasa-Hasa, Batu Badaong, Nusaniwe, Ole Sio, Waktu Di Pangku Mama, Tanase, Toki Tifa,Hura-Hura Cincin, Balenggang Patah Tanjung, Gunung Salahutu, Saule, Siwalima Arika, Suda Balayar, Goro-Goro Ne, Nona Manis Siapa Yang Punya, Mande-Mande, Gandong e dll. Flora Anggrek larat Fauna Nuri raja Situs web malukuprov.go.id Maluku adalah sebuah provinsi yang meliputi bagian selatan Kepulauan Maluku, Indonesia. Lintasan sejarah Maluku telah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan besar di Timur Tengah seperti kerajaan Mesir yang dipimpin Firaun. Bukti bahwa sejarah Maluku adalah yang tertua di Indonesia adalah catatan tablet tanah liat yang ditemukan di Persia, Mesopotamia, dan Mesir menyebutkan adanya negeri dari timur yang sangat kaya, merupakan tanah surga, dengan hasil alam berupa cengkih, emas dan mutiara, daerah itu tak lain dan tak bukan adalah tanah Maluku yang memang merupakan sentra penghasil Pala, Fuli, Cengkih dan Mutiara. Pala dan Fuli dengan mudah didapat dari Banda Kepulauan, Cengkih dengan mudah ditemui di negeri-negeri di Ambon, Pulau-Pulau Lease (Saparua, Haruku & Nusa laut) dan Nusa Ina serta Mutiara dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar di Kota Dobo, Kepulauan Aru. Ibu kota Maluku adalah Ambon yang bergelar atau memiliki julukan sebagai Ambon Manise, kota Ambon berdiri di bagian selatan dari Pulau Ambon yaitu di jazirah Leitimur. Ada wacana bahwa Kota Ambon Manise sudah semakin padat, sumpek, dan tidak lagi layak untuk menampung jumlah penduduk yang dari tahun ke tahun meningkat tajam. Ambon yang saat ini merupakan ibu kota Provinsi nantinya akan menjadi kota biasa karena ibu kota direncanakan pindah ke negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah. Jumlah penduduk provinsi ini tahun 2010 dalam hasil sensus berjumlah 1.533.506 jiwa. Maluku terletak di Indonesia Bagian Timur. Berbatasan langsung dengan Maluku Utara dan Papua Barat di sebelah utara, Laut Maluku, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara di sebelah barat, Laut Banda, Timor Leste, dan Nusa Tenggara Timur di sebelah selatan serta Laut Aru dan Papua di sebelah timur. Maluku memiliki 2 agama utama yaitu agama Islam yang dianut 50,61% penduduk dan agama Kristen (baik Protestan maupun Katolik) yang dianut 48,4% penduduk.[2] Maluku tercatat dalam ingatan sejarah dunia karena konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon. Selepas tahun 2002, Maluku berubah wajah menjadi provinsi yang ramah dan damai di Indonesia, untuk itu dunia memberikan suatu tanda penghargaan berupa Gong Perdamaian Dunia yang diletakkan di ACC (Ambon City Centre). Pada tahun 1999 ketika konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon melanda Maluku, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibu kota di Sofifi. Namun, karena Kota Sofifi dinilai belum siap menjadi ibu kota maka pusat pemerintahan sementara sampai 2009 berada di Kota Ternate yang berada di Pulau Ternate. Provinsi Maluku dan Maluku Utara membentuk suatu gugus-gugus kepulauan yang terbesar di Indonesia dikenal dengan Kepulauan Maluku dengan lebih dari 4.000 pulau baik pulau besar maupun kecil. Daftar isi 1 Nama 2 Sosial Budaya 2.1 Suku Bangsa 2.2 Bahasa 2.3 Agama 2.4 Sosial Budaya 3 Pemerintahan 3.1 Kabupaten dan Kota 3.2 Daftar Gubernur 3.3 Dewan Perwakilan 4 Perekonomian 4.1 Sumber Daya Hutan 4.2 Potensi Tambang dan Mineral 4.3 Perikanan 4.4 Potensi Perikanan dan Sumber Daya Air Maluku 4.5 Energi 4.6 Pariwisata 4.6.1 Wisata Budaya 5 Komunikasi 5.1 Ambon Cyber City 5.2 Stasiun Televisi Lokal 5.3 Stasiun Televisi Jaringan Kabel (CATV) 5.4 Surat Kabar Harian 5.5 Tabloid/ Koran Mingguan 5.6 Stasiun Radio Lokal 5.7 Media Online 6 Pendidikan 6.1 Perguruan Tinggi[8] 6.1.1 Negeri 6.1.2 Swasta 7 Seni dan Budaya 7.1 Musik 7.2 Tarian 8 Sejarah 8.1 Arkeologi 8.2 Era Portugis dan Spanyol 8.3 Bangsa Belanda 8.4 Perang Dunia II 9 Lihat pula 10 Referensi 11 Pranala luar Nama Pendapat pertama menyatakan kata Maluku berasal dari bahasa Arab yaitu kata Al-Mulk, Al-Mulk berarti sebagai tanah atau pulau atau negeri para raja. Hal ini memang benar karena Maluku sampai sekarang pun terdiri atas negeri-negeri kecil yang lumayan banyak dengan rajanya sendiri-sendiri. Pendapat kedua menyatakan kata Maluku berasal dari bahasa Ternate yaitu kata Moloku atau Moloko, dua kata itu Moloku atau Moloko sama-sama berarti sebagai tanah air. Hal ini tercermin dari perkataan bangsa Ternate pada masa lampau yang menyebutkan bumi Maluku belahan utara sebagai Moloku Kie Raha yang berarti tanah air dengan empat gunung. Keempat gunung yang dimaksud adalah 4 kerajaan atau kesultanan besar dari Maluku Utara yaitu Kesultanan Ternate, Kerajaan Tidore, Bacan, dan Jailolo. Sosial Budaya Suku Bangsa Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga, dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik. Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii). Mereka umumnya memiliki kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat, serta profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria. Sejak zaman dahulu, banyak di antara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain yaitu dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda dan Portugal) serta Spanyol, kemudian bangsa Arab sudah sangat lazim mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama 2.300 tahun dan melahirkan keturunan keturunan baru, yang mana sudah bukan ras Melanesia murni lagi namun tetap mewarisi dan hidup dengan beradatkan gaya Melanesia-Alifuru. Karena adanya percampuran kebudayaan dan ras dengan orang Eropa dan Arab inilah maka Maluku merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang digolongkan sebagai daerah yang memiliki kaum Mestizo terbesar selain Timor Leste (Timor Leste, sekarang menjadi negara sendiri]]. Bahkan hingga sekarang banyak nama fam/mata ruma di Maluku yang berasal adat bangsa asing seperti Belanda (Van Afflen, Van Room, De Wanna, De Kock, Kniesmeijer, Gaspersz, Ramschie, Payer, Ziljstra, Van der Weden, dan lain-lain) serta Portugal (Da Costa, De Fretes, Que, Carliano, De Souza, De Carvalho, Pareira, Courbois, Frandescolli, dan lain-lain). Ditemukan pula fam/mata ruma keturunan bangsa Spanyol (Oliviera, Diaz, De Jesus, Silvera, Rodriguez, Montefalcon, Mendoza, De Lopez, dan lain-lain) serta fam-fam Arab yang langsung dari Hadramaut (Al-Kaff, Al Chatib, Bachmid, Bakhwereez, Bahasoan, Al-Qadri, Alaydrus, Assegaff, dan lain-lain). Cara penulisan fam orang Ambon/Maluku pun masih mengikuti dan disesuaikan dengan cara pembacaan ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Lohenapesi), Kallaij (baca: Kalai), dan Akyuwen (baca: Akiwen). Dewasa ini, masyarakat Maluku tidak hanya terdapat di Indonesia saja melainkan tersebar di berbagai negara di dunia. Kebanyakan dari mereka yang hijrah keluar negeri disebabkan olah berbagai alasan. Salah satu sebab yang paling klasik adalah perpindahan besar-besaran masyarakat Maluku ke Eropa pada tahun 1950-an dan menetap di sana hingga sekarang. Alasan lainnya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menuntut ilmu, kawin-mengawin dengan bangsa lain, yang di kemudian hari menetap lalu memiliki generasi-generasi Maluku baru di belahan bumi lain. Para ekspatriat Maluku ini dapat ditemukan dalam komunitas yang cukup besar serta terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda (yang dianggap sebagai tanah air kedua oleh orang Maluku selain tanah Maluku itu sendiri), Suriname, dan Australia. Komunitas Maluku di wilayah lain di Indonesia dapat ditemui di Medan, Palembang, Bandung, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Makassar, Kupang, Manado, Kalimantan Timur, Sorong, dan Jayapura. Bahasa Lihat pula: Daftar bahasa di Maluku Lihat pula: Bahasa Ambon Bahasa yang digunakan di Provinsi Maluku adalah Bahasa Ambon, yang merupakan salah satu dari rumpun bahasa Melayu timur yang dikenal sebagai bahasa dagang atau trade language. Bahasa yang dipakai di Maluku terkhusus di Ambon sedikit banyak telah dipengaruhi oleh bahasa-bahasa asing, bahasa-bahasa bangsa penjelajah yang pernah mendatangi, menyambangi, bahkan menduduki dan menjajah negeri/tanah Maluku pada masa lampau. Bangsa-bangsa itu ialah bangsa Spanyol, Portugis, Arab, dan Belanda. Bahasa Ambon selaku lingua franca di Maluku telah dipahami oleh hampir semua penduduk di wilayah Provinsi Maluku dan umumnya, dipahami juga sedikit-sedikit oleh masyarakat Indonesia Timur lainnya seperti orang Ternate, Manado, Kupang, dll. karena Bahasa Ambon memiliki struktur bahasa yang sangat mirip dengan bahasa-bahasa trade language di wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, serta Nusa Tenggara Timur. Bahasa Indonesia selaku bahasa resmi dan bahasa persatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi dan formal seperti di kantor-kantor pemerintah dan di sekolah-sekolah serta di tempat-tempat seperti museum, bandara, dan pelabuhan. Maluku merupakan wilayah kepulauan terbesar di seluruh Indonesia, Provinsi Maluku dan Maluku Utara menyusun sebuah big islands yang dinamai Kepulauan Maluku. Banyaknya pulau yang saling terpisah satu dengan yang lainnya, juga mengakibatkan semakin beragamnya bahasa yang dipergunakan di provinsi ini. Beberapa bahasa yang paling umum dipetuturkan di Maluku yaitu: Bahasa Wemale, dipakai penduduk Negeri Piru, Seruawan, Kamarian, dan Rumberu (Kabupaten Seram Bagian Barat). Bahasa Alune, dipakai di wilayah tiga batang air yaitu Tala, Mala, dan Malewa di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat. Bahasa Nuaulu, dituturkan oleh suku Nuaulu di Pulau Seram Selatan yaitu antara Teluk Elpaputi dan Teluk Teluti. Bahasa Atiahu, dipakai oleh tiga negeri yang juga termasuk rumpun Nuaulu yakni Negeri Atiahu, Werinama, dan Batuasa di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur. Bahasa Koa, dituturkan di wilayah pegunungan tengah Pulau Seram yaitu sekitar Manusela dan Gunung Kabauhari. Bahasa Seti dituturkan oleh suku Seti, di Seram Utara dan Teluti Timur, merupakan bahasa dagang di Seram Bagian Timur. Bahasa Gorom merupakan turunan dari bahasa Seti dan dipakai oleh penduduk beretnis atau bersuku Gorom yang berdiam di kabupaten Seram Bagian Timur yang menyebar sampai Kepulauan Watubela dan Maluku Tenggara. Bahasa Tarangan merupakan bahasa pemersatu dan dipakai oleh penduduk wilayah Pulau Aru dengan ibu kota Kab. Dobo Maluku Tenggara. Tiga bahasa yang hampir punah adalah Palamata dan Moksela serta Hukumina. Ratusan bahasa di atas dipersatukan oleh sebuah bahasa pengantar yang telah menjadi lingua franca sejak lama yaitu Bahasa Ambon. Sebelum bangsa-bangsa asing (Arab, Tiongkok, Spanyol, Portohis, Wolanda, dan Inggris) menginjakkan kakinya di Maluku, bahasa-bahasa asli Maluku tersebut sudah hidup setidaknya ribuan tahun dan menjadi bahasa-bahasa dari keluarga atau rumpun paling barat keluarga bahasa-bahasa Pasifik/Melansia (bahasa Papua-Melanesoid) Agama Penduduk Maluku menganut 3 agama utama yaitu Islam sebanyak 50,61%, Kristen Protestan sebanyak 41,40%, dan Katolik sebanyak 6,76% penduduk. Penyebaran agama Islam dilakukan oleh Kesultanan Iha, Saulau, Hitu, dan Hatuhaha serta pedagang Arab yang mengunjungi Maluku. Sementara penyebaran agama Kristen dilakukan oleh misionaris-misionaris dari Portugis, Spanyol, dan Belanda. Tempat ibadah di Provinsi Maluku pada tahun 2013 tercatat yaitu sebagai berikut: Masjid sebanyak hampir 2 ribu buah Gereja sebanyak 2.345 buah Pura sebanyak 10 buah Vihara sebanyak 5 buah. Gereja Protestan Maluku atau biasa dikenal sebagai GPM merupakan organisasi sinode dan pertubuhan gereja terbesar yang ada di Maluku, yang memiliki jemaat gereja di hampir seluruh negeri Sarane di seluruh Maluku. Sosial Budaya Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut Pela dan Gandong. Pela dan Gandong merupakan suatu sebutan yang di berikan kepada dua atau lebih negeri yang saling mengangkat/menganggap sebagai saudara satu sama lain. Pela Gandong sendiri merupakan intisari dari kata "Pela" dan "Gandong". Pela adalah suatu ikatan persatuan, sedangkan Gandong mempunyai arti saudara. Pemerintahan Kabupaten dan Kota Artikel utama: Daftar kabupaten dan kota di Maluku No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[5] Jumlah penduduk (2017)[5] Kecamatan Kelurahan/desa Logo Peta lokasi 1 Kabupaten Buru Namlea Ramly Umasugi 4.932,32 130.696 10 -/82 Lambang Kabupaten Buru.png Locator map of Buru Regency in Maluku.png 2 Kabupaten Buru Selatan Namrole Tagop Sudarsono Soulisa 3.780,56 72.993 6 -/79 Lambang Kabupaten Buru Selatan.jpeg Locator map of South Buru Regency in Maluku.png 3 Kabupaten Kepulauan Aru Dobo Johan Gonga 8.152,42 102.272 10 2/117 Lambang Kabupaten Kepulauan Aru.jpg Locator map of Aru Islands Regency in Maluku.png 4 Kabupaten Maluku Barat Daya Tiakur Benyamin Thomas Noach 4.581,06 66.805 17 1/117 Lambang Kabupaten Maluku Barat Daya.png Locator map of Southwest Maluku Regency in Maluku.png 5 Kabupaten Maluku Tengah Masohi Abua Tuasikal 7.953,81 422.065 18 6/186 Lambang Kabupaten Maluku Tengah.gif Locator map of Central Maluku Regency in Maluku.png 6 Kabupaten Maluku Tenggara Langgur Muh. Thaher Hanubun 1.031,81 125.704 11 1/190 Lambang Kabupaten Maluku Tenggara.gif Locator map of Southeast Maluku Regency in Maluku.png 7 Kabupaten Kepulauan Tanimbar Saumlaki Petrus Fatlolon 4.465,79 122.337 10 2/80 Lambang Kabupaten Maluku Tenggara Barat.png Locator map of Tanimbar Islands Regency in Maluku.png 8 Kabupaten Seram Bagian Barat Piru Moh. Yasin Payapo 5.033,38 208.009 11 -/92 Kab seram bagian barat.jpg Locator map of West Seram Regency in Maluku.png 9 Kabupaten Seram Bagian Timur Bula Abdul Mukti Keliobas 6.429,88 131.707 15 -/198 Lambang Kabupaten SBT.png Locator map of East Seram Regency in Maluku.png 10 Kota Ambon - Richard Louhenapessy 298,61 375.760 5 20/30 Lambang Ambon.png Locator map of Ambon City in Maluku.png 11 Kota Tual - Adam Rahayaan 254,39 84.585 5 3/27 Logo kota tual.jpg

0 Response to "Maluku "

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *